Sabtu, 22 September 2018

aku kemas dalam do'a


Kamu .....
Sang penjerat hati ku
Kamu .....
Bidadari masa depan ku
                Sungguh indahnya dirimu
                Mecerahkan awan yang gelap
                Begitu anggunnya sifatmu
                Meluluhkan hatiku yang senyap
Rasa ku padamu sungguh tak dapat ku pendam
Bagai gunung yang ingin mengeluarkan semburan awan panas
Namun apa daya semua membuatku diam
Tiada langkah yang tak bisa ku bernafas
                Sujud ku ..
                Do’a ku...
                Itulah caraku mengadu
                 Sang pemilik hatimu
Menenangkan hati kepada sang pencipta
Menuaikan benih kesucian cinta
Lantunan ayat-ayatmu
Mengingatkan akan keindahan ciptaanmu
                Kamu ....!
Wai,  Tulang rusuk ku
Akan kutemukan engkau
Dihari yang telah Allah janjikan
Mohamad Saifudin_ Sabtu,  22 September 2018

BOHONG LAGI Di malam yang menyeramkan


Angin malam yang begitu menyejukkan raga. Berangkatlah jiwa dan ragaku untuk melaksanakan FoCR 2018 di Situs Ndalem Pojok Bung Karno Wates Kediri yang dilaksanakan pada tanggal 24-26 Agustus 2018 dengan bertema “Meneguhkan Keharmonisan Demi Menjadikan Mahasiswa Perbandingan Agama yang Berintregritas”
Saat kakiku berjalan menuju penginapan ada rasa tidak nyaman, tidak tau itu karena faktor apa, tapi aku mencoba positif thinking, berdo’a dan banyak bersholawad. Langit yang begitu cerah dan menyejukkan jiwa dimana kita mencari kebugaran dan kesehatan. Kruuuuuk....... dan perut pun berbunyi, waktu kita mengenyangkan perut. Tik., tik., tik., jarum jam berjalan, banyak beberapa materi yang diberikan oleh pemateri. Dan terjadilah FGD (Forum Grub Discuscion), dimana aku mengulas materi yang diberikan. Tetapi saat langkahku menuju FGD, hati gak tenang, tangan pun terasa panas dingin gak tau kenapa. Tapi terasa ku menyimpan asmara kepada seseorang yaitu Dia, iya dia B.....!? Emmmm !! tapi masa bodo lah. Aku mencoba menjadikan hati dan intuisiku harus benar-benar memahami materi.
Angin malam yang menyeyakkan tidurku, dengan pulas dan waktu yang menunjukkan tengah malam. Disitulah terjadi peristiwa yang benar-benar tidak ku sukai. Karena mata yang lengket, raga pun lemah, jiwa yang terasa kosong, telah dibangunkan dan berlari-lari menuju suatu tempat yang benar-benar akan kegelapan, angin yang menghantam tubuhku terasa kaku. Air mata yang berjatuhan, hati terasa panas, mulut pun ingin berteriak, tetapi dengan rasa ketakutan yang membuatku bungkam akan bicara.
Dengan kekejaman peristiwa renungan malam yang ku anggap sebagai bunga tidurku, ternyata banyak alasan dibalik itu, dan aku pun bangga karena hatiku kokoh seperti semen 3 Roda. Banyaknya ocehan dan olokan yang berlomba-lomba seperti angin Tornado, aku pun tidak berhenti akan disitu. Akupun mengambil segi positifnya, meskipun ada ucapan kalimat yang buatku muak, yaitu “BOHONG LAGI” dari kalimat itu aku pun tidak dendam, tapi akan ku ingat. Hihihi...!
Suasana pun sudah mendingin dan aku melangkah mininggalkan dimana tempat seperti gua yang begitu akan kegelapan
Selamat pagi suasan baru, disaat aku melupakan mimpi buruk dan kesedihan. Angin yang begitu cerah, seperti senyuman raut diwajahku. “Out Bond” kegiatan itulah yang membuatku benar-benar senang dan tertawa jahat dengan melupakan kesedihanku. Banyak permainan yang dilakukan, sungguh hatiku terasa senang, berlari-lari, berteriak-riak, itulah suasana yang ada di keluarga besar ku, yakni keluarga Pebandingan Agama IAIN Kediri.

 by : Tuntun, Mahasiswa Perbandingan Agama 2018

Kamis, 20 September 2018

Grebek Suro di Desa Menang


Mengenal sejarah merupakan mengenal jati diri negara. Siapa tak mengenal sejarah pastilah tak tau dirinya sendiri.
Belajar sejarah tentu juga tak lepas dari budaya. Budaya merupakan hasil dari produk masyarakat yang telah dipercayahi dan dilaksanakan secara turun temurun.
Bertepatan pada tgl 1 suro 1440 H, masyarakat Desa Pamenang Kec. Pagu Kab. Kediri mengadakan Grebek Suro. Start upacara mulai dari balai desa Pamenang menuju petilasan Sri Aji Joyoboyo dan Terakhir upacara di Sendang Tirto kamandanu yang tepatnya tak jauh dari tempat petilasannya Sri Aji Joyoboyo.
Dua tempat ini tak bisa di pisahkan, ibarat satu rumah, 2 atap. Upacara ini merupakan ritual sebagai wujud ucapan terimakasih terhadap leluhur dan sebagai bentuk melestarikan budaya yang dulu sudah ada. Awal mulanya yang menggagas Grebek Suro ini bukan berasal masyarakat setempat, melainkan Keluarga besar Joyogento dari Jogjakarta dan di ikuti berbagai penjuru daerah seperti halnya ada yg dari Solo.
Seiring waktu berjalan masyarakat atau keluarga dari juru kunci sendang dapat melaksanakan acara dan di ikuti oleh lapisan paguyupan yg ada di kediri. Dan tak ketinggalan juga teman" mahasiswa Perbandingan Agama IAIN Kediri yg ikut serta partisipasi. sekalian ini merupakan agenda kami bernama Direct Research
Suatu kegiatan yang lebih mangarah pada kajian Fenomenologi yakni melihat langsung prosesi atau upacara Grebek Suro dan tentu banyak pengalaman-pengalaman yang belom kita ketahui di dalam kelas.
# Grebek 1 Suro  1440 H
# Direct Research
# Perbandingan Agama
# IAIN Kediri

Melestarikan Budaya Ala Ahli Sunnah Wal Jama’ah di Kalangan Pelajar Dewasa ini, sering kita dengar berita lagi gemparnya adaya geraka...