Sabtu, 07 September 2019


Melestarikan Budaya Ala Ahli Sunnah Wal Jama’ah di Kalangan Pelajar

Dewasa ini, sering kita dengar berita lagi gemparnya adaya gerakan radikalisme yang terus saja merebah luas dikalangan masyarkat Indonesia, mulai dari aksi teror meneror baik di dunia maya maupun nyata. Gerakan-gerakan yang sering terjadi dengan mengatasnamakan agama. Masyarakat mulai risau dengan adanya gerakan ini, karena jelas mengganggu ketemtraman dan kenyamanan masyarakat. Aksi teror atau pengeboman yang menjadi sasaran tidak hanya dilokasi peribadatan atau tempat penginapan melainkan tempat keamanan polisi yang terjadi di daerah Surabaya. Kondisi ini sangat memperhatinkan, lagi-lagi yang menjadi sorotan dunia menganahi aksi yang tidak mempunyai rasa kemanusian ini berasal dari golongan muslim. 
Tak hanya itu saja, kejadian ini tidak lama terjadi penangkapan kelompok teroris di daerah Nganjuk, yang mana sebagian dari mereka golongan pelajar yang masih muda. Jelas terbukti gerakan radikalisme kini mulai memasuki di kalangan pemuda dan pelajar. Karena di usia mereka inilah memiliki emosional dan jiwa ambisius yang tinggi sehingga mudah sekali beri doktrin dan merubah pola pikir mereka dengan memberikan paham yang berbeda dengan kita. Tentu saja dengan cara pecik mereka lagi-lagi agama sebagai alat untuk menarik mereka agar mau dan siap melaksanakan perintah meski nyawa menjadi taruhannya.
Pelajar sebagai pemuda yang mempunyai peran penting terhadap agama dan negara. Selayaknya harus berani bergerak cepat dan mampu memberikan warna baru dan daya tarik bagi kalangan anak muda terhadap ajaran bernuansa ala ahli sunnah wal jama’ah yang sesuai dengan kemampuan masing-masing, tak hanya itu saja kita diharuskan mampu memberikan sebuah pengenalan tentang tradisi-tradisi ala ahli sunnah wal jama’ah sekaligus upaya dalam melestarikan budaya lokal yang sejak dulu dilakukan oleh para wali songo melalui banyak metode yang dilakukan seperti cara akulturi antara budaya dan agama sehingga dapat dengan mudah diterima oleh lapisan masyarakat yang mayoritas memiliki keyakinan terhadap ajaran nenek moyang mereka.
Mengutip dari sebuah perjuangan para wali songo yang mampu menyebarkan agama Islam tanpa timbul adanya permusuhan namun dapat melekat disetiap lapisan masyarakat. Kita para pelajar tinggal meneruskan saja para perjuangan wali songo dengan mengemas lebih menarik dikalangan pemuda khususnya para pelajar yang dapat kita terapkan baik di ranah sekolahan, pesantren dan lingkungan masyarakat sekitar. Karena disitulah peran kita sebagai pelajar dalam menanggulangi gerakan radikalisme yang semakin hari meresahkan masyarakat.
Akhirkan kata dari penulis, mari kita bulatkan tekat untuk menjaga keutuhan negara kita demi kebaikan bersama. Negara akan tetap aman bila mana pemudanya mampu bergerak menyikapi kondisi yang terjadi, sebaliknya negara akan hancur bila pemudanya tidak peka terhadap gejolak yang ada disekitarnya. Semangat Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Mohamad Saifudin, 07 September 2019

Kamis, 17 Januari 2019

Angin di Tepi Pantai

Semilir angin di tepi pantai
Membawa sebuah kisah
Terkemas dalam renungan hati
Sampai tak akan pisah
Ombak yang begitu dasyat
Membasahi tubuh ini
Kasih akan teringat
Tentang senyummu nanti
Denyut hati bergetar
Ketika selalu ada disampingmu
Terasa hangat dibawah mentari bersinar
Dan kau tetap ada disampingku
Aku tak tau ....
Sampai kapan .....
Hanya saja aku yakin padamu
Selama ini yang ku harapkan
Aku tak perlu menjelaskan apa arti cinta
Tapi aku tau bagaimana cara mencintai
Cinta tak perlu banyak kata
Tapi bagaimana bisa merasakan dalam hati


Sabtu, 22 September 2018

aku kemas dalam do'a


Kamu .....
Sang penjerat hati ku
Kamu .....
Bidadari masa depan ku
                Sungguh indahnya dirimu
                Mecerahkan awan yang gelap
                Begitu anggunnya sifatmu
                Meluluhkan hatiku yang senyap
Rasa ku padamu sungguh tak dapat ku pendam
Bagai gunung yang ingin mengeluarkan semburan awan panas
Namun apa daya semua membuatku diam
Tiada langkah yang tak bisa ku bernafas
                Sujud ku ..
                Do’a ku...
                Itulah caraku mengadu
                 Sang pemilik hatimu
Menenangkan hati kepada sang pencipta
Menuaikan benih kesucian cinta
Lantunan ayat-ayatmu
Mengingatkan akan keindahan ciptaanmu
                Kamu ....!
Wai,  Tulang rusuk ku
Akan kutemukan engkau
Dihari yang telah Allah janjikan
Mohamad Saifudin_ Sabtu,  22 September 2018

BOHONG LAGI Di malam yang menyeramkan


Angin malam yang begitu menyejukkan raga. Berangkatlah jiwa dan ragaku untuk melaksanakan FoCR 2018 di Situs Ndalem Pojok Bung Karno Wates Kediri yang dilaksanakan pada tanggal 24-26 Agustus 2018 dengan bertema “Meneguhkan Keharmonisan Demi Menjadikan Mahasiswa Perbandingan Agama yang Berintregritas”
Saat kakiku berjalan menuju penginapan ada rasa tidak nyaman, tidak tau itu karena faktor apa, tapi aku mencoba positif thinking, berdo’a dan banyak bersholawad. Langit yang begitu cerah dan menyejukkan jiwa dimana kita mencari kebugaran dan kesehatan. Kruuuuuk....... dan perut pun berbunyi, waktu kita mengenyangkan perut. Tik., tik., tik., jarum jam berjalan, banyak beberapa materi yang diberikan oleh pemateri. Dan terjadilah FGD (Forum Grub Discuscion), dimana aku mengulas materi yang diberikan. Tetapi saat langkahku menuju FGD, hati gak tenang, tangan pun terasa panas dingin gak tau kenapa. Tapi terasa ku menyimpan asmara kepada seseorang yaitu Dia, iya dia B.....!? Emmmm !! tapi masa bodo lah. Aku mencoba menjadikan hati dan intuisiku harus benar-benar memahami materi.
Angin malam yang menyeyakkan tidurku, dengan pulas dan waktu yang menunjukkan tengah malam. Disitulah terjadi peristiwa yang benar-benar tidak ku sukai. Karena mata yang lengket, raga pun lemah, jiwa yang terasa kosong, telah dibangunkan dan berlari-lari menuju suatu tempat yang benar-benar akan kegelapan, angin yang menghantam tubuhku terasa kaku. Air mata yang berjatuhan, hati terasa panas, mulut pun ingin berteriak, tetapi dengan rasa ketakutan yang membuatku bungkam akan bicara.
Dengan kekejaman peristiwa renungan malam yang ku anggap sebagai bunga tidurku, ternyata banyak alasan dibalik itu, dan aku pun bangga karena hatiku kokoh seperti semen 3 Roda. Banyaknya ocehan dan olokan yang berlomba-lomba seperti angin Tornado, aku pun tidak berhenti akan disitu. Akupun mengambil segi positifnya, meskipun ada ucapan kalimat yang buatku muak, yaitu “BOHONG LAGI” dari kalimat itu aku pun tidak dendam, tapi akan ku ingat. Hihihi...!
Suasana pun sudah mendingin dan aku melangkah mininggalkan dimana tempat seperti gua yang begitu akan kegelapan
Selamat pagi suasan baru, disaat aku melupakan mimpi buruk dan kesedihan. Angin yang begitu cerah, seperti senyuman raut diwajahku. “Out Bond” kegiatan itulah yang membuatku benar-benar senang dan tertawa jahat dengan melupakan kesedihanku. Banyak permainan yang dilakukan, sungguh hatiku terasa senang, berlari-lari, berteriak-riak, itulah suasana yang ada di keluarga besar ku, yakni keluarga Pebandingan Agama IAIN Kediri.

 by : Tuntun, Mahasiswa Perbandingan Agama 2018

Kamis, 20 September 2018

Grebek Suro di Desa Menang


Mengenal sejarah merupakan mengenal jati diri negara. Siapa tak mengenal sejarah pastilah tak tau dirinya sendiri.
Belajar sejarah tentu juga tak lepas dari budaya. Budaya merupakan hasil dari produk masyarakat yang telah dipercayahi dan dilaksanakan secara turun temurun.
Bertepatan pada tgl 1 suro 1440 H, masyarakat Desa Pamenang Kec. Pagu Kab. Kediri mengadakan Grebek Suro. Start upacara mulai dari balai desa Pamenang menuju petilasan Sri Aji Joyoboyo dan Terakhir upacara di Sendang Tirto kamandanu yang tepatnya tak jauh dari tempat petilasannya Sri Aji Joyoboyo.
Dua tempat ini tak bisa di pisahkan, ibarat satu rumah, 2 atap. Upacara ini merupakan ritual sebagai wujud ucapan terimakasih terhadap leluhur dan sebagai bentuk melestarikan budaya yang dulu sudah ada. Awal mulanya yang menggagas Grebek Suro ini bukan berasal masyarakat setempat, melainkan Keluarga besar Joyogento dari Jogjakarta dan di ikuti berbagai penjuru daerah seperti halnya ada yg dari Solo.
Seiring waktu berjalan masyarakat atau keluarga dari juru kunci sendang dapat melaksanakan acara dan di ikuti oleh lapisan paguyupan yg ada di kediri. Dan tak ketinggalan juga teman" mahasiswa Perbandingan Agama IAIN Kediri yg ikut serta partisipasi. sekalian ini merupakan agenda kami bernama Direct Research
Suatu kegiatan yang lebih mangarah pada kajian Fenomenologi yakni melihat langsung prosesi atau upacara Grebek Suro dan tentu banyak pengalaman-pengalaman yang belom kita ketahui di dalam kelas.
# Grebek 1 Suro  1440 H
# Direct Research
# Perbandingan Agama
# IAIN Kediri

Selasa, 07 Agustus 2018

Tuhan Pun Punya Cerita

Tuhan Pun Punya Cerita

Setiap hembusan nafas ini mengandung lantunan kalimatmu yang indah. Tak hentinya aku menyebutmu dengan syahdunya aku meresapinya. Tak ada jalan lain tempat ku untuk mengadu segala kegalauan dalam jiwa. Berat, susah, bimbang tak terarah itulah warna kehidupan di dunia. Sempat ku terjatuh dalam lubang yang paling dalam hingga aku tak ada daya untuk bangkit, lemahnya diri ini hingga tak tertahan untuk menuangkan tetesan air suci. Namun di kala itu aku teringat dengan mu yaa robb, engkau lah satu-satunya pengobat di saat aku mulai lemah, saat itulah ada kekuatan untuk bangkit.


Aku mulai meraba tentang jalan hidup yang harus aku lalui, aku tak ingin semua menjadi sia-sia hanya karena sebuah lamunan yang amat jauh. Sedikit demi sedikit aku pelajari alur jalan tuhan, tak bosan aku mengemis padanya, meratapi tentang kesalahan yang lalu, bagai tumpukan sampah kotor.

Tuhan…. Sungguh aku tak mampu membawa beban dosa ini jika kau nampakkan di bumi, dan sungguh malu jika kau tampakkan kejelekan nafsu amarah. Begitu indahnya jalanmu, kau tuliskan sekenario pada setiap manusia untuk bertafakkur, memilih pada jalan yang benar. Pada hakikinya manusia ditabiatkan untuk selalu berikhriyar, namun tetap Tuhan yang menentukan hasil akhirnya.

Tetap terus melangkah, meski langkahmu tak ternilai dimata orang lain.

Minggu, 13 Mei 2018

Sadar Untuk Indonesia Yang Aman, Stop Aksi Terorisme


Sadar Untuk Indonesia Yang Aman, Stop Aksi Terorisme
By. Mohamad Saifudin
Entah kenapa keramaian di pagi hari telah mengusik ketenangan negeri ku yang beragam. Apa kau telah lupa hadirnya negeri yang begitu indah merupakan sebuah perjuangan yang amat panjang dari berbagai lapisan masyarakat yang plural. Sekarang kau hancurkan dengan sifat kebrutalanmu hanya untuk kepentingan kelompok sendiri. Hilangkah didalam jiwa mu arti semboyan Bhinika Tunggal Eka, hingga kau terlena dengan dokma-dokma pengahancuran jiwa. Sadarlah kau para pelaku kekonyolan, kamu punya sejarah, tengoklah sejarah agar kau tak buta dengan negeri Indonesia.
Sebagai warga Indonesia yang terkenal dengan negeri yang damai, aman dan toleran. Merskipun kaya akan  adanya keberegaman yang begitu banyak. Aku malu dengan dunia, menangis dalam batin terdengar adanya bom bunuh diri yang ada di Surabaya pagi tadi (13/05/18),bertempat di 3 titik yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela Jl. Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl. Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Jl. Arjuno. Menurut info yang kami dapat 9 orang meninggal dan empat puluh luka-luka. Inikah wajah Indonesia yang menjadi korban para gerakan terorisme, radikalisme. Bahkan terasa sesak dalam dada, aksi dari tindakan ini mengatasnamakan agama Islam sebagai jihat fisabilillah yang mereka yakini wujud pengabdian pada agama.
Pelaku bom bunuh diri adalah sebagai korban para kelompok radikal yang kini semakin meluas di belahan dunia. Entah dari mana kelompok ini berasal, tak ada yang tau persis induk dari gerakan yang meresahkan masyarakat, sulit sekali mengenali kelompok yang satu ini, karena sangat rapi sekali dalam melaksanakan aksi-aksi yang mereka lakukan.
Mereka melakukan segala cara demi menjalankan visi misinya, menjadikan agama sebagai topangan untuk menindas, melemahkan bahkan mengancurkan. Seakan-akan agama seperti robot yang kapan pun ia gunakan untuk menghancurkan yang mereka mau.
Ingatlah Tuhan menciptakan bumi ini bukan hanya dipakai untuk satu jenis warna kulit, suku, ras, budaya, ideologi dan agama. Namun berbagai macam jenis Tuhan ciptakan untuk mengisi adanya perbedaan yang ada di Bumi, Tuhan bukan tak mampu menciptakan satu jenis, tapi sebagai bentuk untuk saling mengenal dan pilihan, agar manusia bisa membedakan mana yang baik dan yang batil.
Hilangkan rasa egois dalam berideologi, kembangkan rasa toleran terhadap perpedaan yang ada. Toleran tak harus kita bergabung dengan keyakinan yang berbeda, namun dapat dengan sikap menghargai dan menghormati apa yang menjadi keyakinan mereka. Semua ada batas-batasan dalam sikap kita hidup saling berdampingan. Semua agama mengajarkan hidup rukun dan saling menghargai satu sama lain, Islam mengajarkan seperti apa yang ada dalam Al-Qur’an di QS. Al-Kafirun ayat 6. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku"). Jadi sudah jelas, tak perlu untuk di permasalahkan. Rosululloh SAW  pun sudah memberikan contoh sikap seorang Muslim dengan orang yang non Muslim dan masih banyak lagi. Dalam agama lain, seperti Kristen, Hindu, Budha dll, yang pada intinya juga mengajarkan hidup untuk saling menghargai dan menjaga kedamaian baik dalam interen agama maupun eksternal agama.
Untuk kalian sebagai anak bangsa, tak perduli apa agama, suku, dan budayamu berilah senyum kedamaian untuk wajah Indonesia. Jadikan Indonesiamu sebagai refrensi dunia hidup rukun dalam masyarakat yang multikultural.

Melestarikan Budaya Ala Ahli Sunnah Wal Jama’ah di Kalangan Pelajar Dewasa ini, sering kita dengar berita lagi gemparnya adaya geraka...