Entah kenapa keramaian di pagi hari telah mengusik ketenangan
negeri ku yang beragam. Apa kau telah lupa hadirnya negeri yang begitu indah
merupakan sebuah perjuangan yang amat panjang dari berbagai lapisan masyarakat
yang plural. Sekarang kau hancurkan dengan sifat kebrutalanmu hanya untuk
kepentingan kelompok sendiri. Hilangkah didalam jiwa mu arti semboyan Bhinika
Tunggal Eka, hingga kau terlena dengan dokma-dokma pengahancuran jiwa. Sadarlah
kau para pelaku kekonyolan, kamu punya sejarah, tengoklah sejarah agar kau tak
buta dengan negeri Indonesia.
Sebagai warga Indonesia yang terkenal dengan negeri yang damai,
aman dan toleran. Merskipun kaya akan adanya keberegaman yang begitu banyak. Aku
malu dengan dunia, menangis dalam batin terdengar adanya bom bunuh diri yang
ada di Surabaya pagi tadi (13/05/18),bertempat di 3 titik yakni Gereja Santa
Maria Tak Bercela Jl. Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl.
Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Jl. Arjuno. Menurut info yang kami dapat 9
orang meninggal dan empat puluh luka-luka. Inikah wajah Indonesia yang menjadi
korban para gerakan terorisme, radikalisme. Bahkan terasa sesak dalam dada, aksi
dari tindakan ini mengatasnamakan agama Islam sebagai jihat fisabilillah yang
mereka yakini wujud pengabdian pada agama.
Pelaku bom bunuh diri adalah sebagai korban para kelompok radikal
yang kini semakin meluas di belahan dunia. Entah dari mana kelompok ini
berasal, tak ada yang tau persis induk dari gerakan yang meresahkan masyarakat,
sulit sekali mengenali kelompok yang satu ini, karena sangat rapi sekali dalam
melaksanakan aksi-aksi yang mereka lakukan.
Mereka melakukan segala cara demi menjalankan visi misinya,
menjadikan agama sebagai topangan untuk menindas, melemahkan bahkan
mengancurkan. Seakan-akan agama seperti robot yang kapan pun ia gunakan untuk
menghancurkan yang mereka mau.
Ingatlah Tuhan menciptakan bumi ini bukan hanya dipakai untuk satu
jenis warna kulit, suku, ras, budaya, ideologi dan agama. Namun berbagai macam
jenis Tuhan ciptakan untuk mengisi adanya perbedaan yang ada di Bumi, Tuhan bukan
tak mampu menciptakan satu jenis, tapi sebagai bentuk untuk saling mengenal dan
pilihan, agar manusia bisa membedakan mana yang baik dan yang batil.
Hilangkan rasa egois dalam berideologi, kembangkan rasa toleran
terhadap perpedaan yang ada. Toleran tak harus kita bergabung dengan keyakinan
yang berbeda, namun dapat dengan sikap menghargai dan menghormati apa yang
menjadi keyakinan mereka. Semua ada batas-batasan dalam sikap kita hidup saling
berdampingan. Semua agama mengajarkan hidup rukun dan saling menghargai satu
sama lain, Islam mengajarkan seperti apa yang ada dalam Al-Qur’an di QS. Al-Kafirun ayat 6. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (Untuk kalianlah agama kalian, dan
untukkulah agamaku"). Jadi sudah jelas, tak perlu untuk di permasalahkan.
Rosululloh SAW pun sudah memberikan
contoh sikap seorang Muslim dengan orang yang non Muslim dan masih banyak lagi.
Dalam agama lain, seperti Kristen, Hindu, Budha dll, yang pada intinya juga
mengajarkan hidup untuk saling menghargai dan menjaga kedamaian baik dalam
interen agama maupun eksternal agama.
Untuk kalian sebagai anak bangsa, tak perduli apa agama, suku, dan
budayamu berilah senyum kedamaian untuk wajah Indonesia. Jadikan Indonesiamu
sebagai refrensi dunia hidup rukun dalam masyarakat yang multikultural.

Siip mas.
BalasHapusBagus kata-katanya mas .Tapi ada yang kurang teliti dalam penulisan katanya .Ada yang typo .Hehehe 😊🙂
Alhamdulillah. .
BalasHapusMakasih untuk masuknya. .